Teruntuk jodoh yang masih di tangan Tuhan, kelak jika kau dilepaskan Tuhan, aku akan menangkapmu dengan pelukan.
Saya rindu jatuh cinta…
Saya rindu merasakan sejuta kupu-kupu di dalam perut…
Saya rindu untuk merindukan binar mata dan senyum jenaka seseorang…
*sigh.
“I just don’t trust myself with you…”
Annette Hargrove (Reese Witherspoon) dan Sebastian Valmont (Ryan Phillippe), Cruel Intentions.
Exactly what i feel, he’s nice, very nice, too nice. Saya malah ngerasa berdosa kenapa saya ngelakuin semua hal ini ke dia, setelah semua kebaikannya.
lalu saya tau kenapa,
I just don’t trust myself with you..
What would you do if someone said he need a hug?
a hug.
Just a hug.
One simple hug.
Would it be so hard to do that?
Tertawa bersama-sama itu enak, apalagi ketika kita melakukannya bersama seorang yang kita yakin selalu akan ada di sisi kita. Kita bisa menertawakan apa saja, selama keduanya setuju apa yang ditertawakan.
Asal bukan ketawa sendiri.
Bukan, bukan takut disangka gila, tapi bisa membuat gila orang lain :)
Layar kristal itu tidak berkedip, begitu juga dengan mata.
Fokusnya membesar hingga jadi bayang-bayang.
Lantas saya rasakan sebentuk angan duduk bersisian.
Tangannya terjulur, meminta.
Belum berkedip, pun tak peduli dengan telinga yang berdengung.
Ada sesuatu dalam rusuk kiri, menggelembung, nyaris meledak.
Angan itu begitu nyata dalam genggaman tangan kanan.
Ingin berteriak, menangis, gembira.
Bertahan.
Logika memisahkan angan dan nyata.
Mengenyahkan ilusi dalam genggaman.
Meredam sesuatu yang memberontak dalam kungkungan rusuk.
“… . .”
“Heh. Kok bengong sih..??”
“Hah? Oh.. nggak.. sori..”
Fokus.
Sesaat tadi rasanya lemah.. sedih hingga nyaris menangis.
Lantas logika mengambil alih pikiran atas ego yang mulai berkaca-kaca.
“hei. Kenapa menangis?” katanya.
Ego memang melankolis, sentimental, menjawab dengan terbata.
“Saya benci tidak punya seseorang yang memperhatikan saya.”
Logika berpikir atas siapa yang sekiranya dimaksudkan ego.
“Kamu merasa sedih karena ketiadaan ibu? Atau ketiadaan orang yang berarti untukmu?”
Selayaknya ego, singkat.. ego menjawab.
“Semuanya.”
.
Tubuh yang sedari tadi diam masih menatap kosong.
“Ck. Terlalu banyak dialog! Kalau mau nangis ya nangis aja..! kalau malu ya tidak usah!”
Suara lain mencampuri dialog logika dan ego.
Lantas saya beranjak meninggalkan ruang makan dan kembali ke kamar.
Tapi tidak ada lagi suara ego, begitu juga dengan logika.
Meninggalkan tubuh dengan kalimat jujur di senja hari.
.
“Kebiasaan deh kalo lagi sakit jadi mellow………….”
Bukan sekali-dua kali saya berada di sini.
Ini ke sekian belas, sekian puluh, sekian ratus, atau sekian ribu kali?
Saya berada di tempat ramai yang sepi.
Di tempat ramai, tapi sepi.
Panas matahari yang menyengat membuat saya enggan bergerak.
Beranjak dari balik jaring yang sedari tadi menjerat saya dengan bayang-bayangnya.
Mata saya seperti tak ingin menatap lebih banyak, ia kian selektif untuk membelalak.
Hanya pada satu-satu yang bermakna.
Kaki saya kian muak, ia benci melangkah ke tempat yang itu-itu saja.
Tangan saya kian malas menggenggam, menyentuh apa yang sebenarnya tak ingin disentuh.
Begitu juga hidung, muak mengingat dengan aroma yang suka-tidak suka terendus.
Ck. Kasihan telinga.. Ia tak bisa berhenti mendengar suara-suara tajam tak berwujud, namanya senyap.
Kesadaran saya kembali.
Pada saya yang berada di tempat ramai yang sepi.
Di tempat ramai, tapi sepi.
Tubuh saya terduduk.
Tulang punggung saya memprotes bangku besi yang tak cukup nyaman untuknya.
Mata, telinga, tangan, kaki, hidung.
Saya.
Terus mencari makna dalam fana.
Karena tak ada lagi yang nyata untuk mereka.
Untuk saya.
Ck. Mereka dan saya baru tahu.. Ternyata hati bisa dapat begitu sakit lantas berkeras diri untuk tak lagi berfungsi..
Ia sukses mensabotase hidup mereka dan saya, untuk kehilangan maknanya.
Silence could be noisier than sounds, and Eyes could be sharper than words.
I’m just sitting right in front of this person, saying few words and let the remain conversation dominated by silence.
I’m just sitting here, watching him trying so hard to hide his nervousness.
I know he’s losing his words.
I know he feels insecure.
I don’t says much words, just something I’ve been thinking lately.
An inconvenient truth? Faith stuffs?
Well, it can’t be helped when my eyes says everything along my few words.
About disappointment, about the truth..
About something that you never realized that I had realized.
This could last forever, unless you says the truth.
Just take the little punishment until that time..
When my silence feels noisier than sounds, and my eyes feels sharper than words.
I’ve been trying to figure out who’s the child in my dream. I’ve also try to find out anyone whose face has the highest similarities to the child. That was just a game I made myself.. No big deal whether I’m gonna find this person or not.. But lately, I just realized that I finally found him..
… . .
… . .
Crap.